Desain Kurikulum Muatan Lokal Untuk Pembelajaran Keagamaan Dengan Pendekatan Muhasabah Di SMP Pendidikan Siswa Minangkabau Bukittinggi

  • Arif Ridha STIT Ahlussunnah Bukittinggi
  • Afni Lindra STIT Ahlussunnah Bukittinggi
  • Hendri sab STIT Ahlussunnah Bukittinggi
Keywords: Pendekatan Muhasabah

Abstract

Pencapaian tujuan pendidikan untuk memperoleh kebahagian dunia dan akhirat, dapat diwujudkan melalui pengembangan dan peningkatan potensi yang dimiliki manusia sebagai bentuk keistimewaan manusia dari makhluk ciptaan Allah SWT lainnya. Menurut Hasan Langgulung manusia memiliki beberapa potensi dasar yang membuat manusia mampu melakukan aktifitas hidupnya, yaitu : 1) potensi rabbaniyah, 2) potensi spiritual (fitrah beragama), 3) potensi emosional (kemampuan merasa),4) potensi intelektual (kemampuan berfikir), 5) potensi biologis. Potensi-potensi ini perlu dikembangkan supaya manusia bisa memiliki keselarasan hidup dengan lingkungan di sekitarnya.salah satu matapelajaran yang mengakomodir potensi-potensi yang dimiliki peserta didik tertuang dalam pelajaran muatan lokal. Matapelajaran dalam kurikulum muatan lokal memberikan kesempatan yang seluas-luasnya kepada satuan pendidikan untuk mengembangkannya. Sebuah mata pelajaran muatan lokal yang akan dikembangkan di sekolah, di sesuaikan dengan kebutuhan daerah dan masyarakat setempat dan kebutuhan dan keadaan peserta didik. Setiap daerah atau sekolah memiliki kondisi dan situasi yang berbeda, baik dari segi sosial dan budaya, sampai ke problema sekolah terkait dengan penyelenggaraan pendidikan. Pihak akademisi di sekolah dihadapkan pada keberagaman keperibadian peserta didik, baik dari segi intelelegensi, psikologis, prilaku dan fisik, sehinga kurikulum muatan lokal bisa dikatakan menjadi solusi bagi permasalahan pendidikan di wilayah atau lingkungan sekolah, khususnya masalah prilaku peserta didik. Aspek prilaku peserta didik secara umum dipengaruhi oleh keadaan keperibadian peserta didik yang terbentuk di rumah dengan kualitas yang berbeda-beda, dalam hal ini guru/pendidik bertugas mendidik dan membina prilaku peserta didik tersebut ke arah yang telah dikonsepkan dalam tujuan pendidikan. Kurikulum muatan lokal, bisa dikatakan sebagai lahan yang harus dikelola dengan semaksimal mungkin oleh kepala sekolah. Melalui kurikulum muatan lokal, kepala sekolah beserta pihak yang berkompeten menyusun serangkaian program-program yang menunjang tercapainya tujuan pendidikan secara efektif dan efisien. Pembelajaran keagamaan dalam kurikulum muatan lokal, menurut penulis di beberapa sekolah merupakan suatu hal yang urgen, khususnya untuk sekolah bagi anak bermasalah (nakal), karena untuk terjadinya perubahan prilaku bagi mereka, memerlukan treatment yang ekstra dibanding sekolah untuk anak yang tidak bermasalah, seperti fenomena yang terjadi di SMP PSM Bukittinggi. PSM sebagai sekolah yang bersedia menjadi solusi untuk anak bermasalah, harus melakukan usaha maksimal dalam mempersiapkan pembelajaran, tapi kenyataan yang terjadi dilapangan usaha yang dilakukan sekolah masih belum menunjukan hasil yang memuaskan, bahkan pihak sekolah tambah kewalahan dalam menghadapi permasalahan yang ditimbulkan oleh para siswa. Pihak sekolah menjadikan matapelajaran pendidikan agama islam, sebagai matapelajaran yang diharapkan mampu memberikan solusi terhadap permasalahan yang ada, namun jika di lihat di SMP PSM, terindikasi bahwa matapelajaran pendidikan agama islam yang telah dilaksanakan belum mampu memberikan perubahan prilaku peserta didik. Berdasarkan observasi awal di lapangan, diketahui bahwa untuk pembekalan ilmu keagamaan untuk menuju perubahan akhlak ke arah yang lebih baik oleh pihak sekolah yang berwenang hanya melalui materi yang telah dirangkum di dalam mata pelajaran pendidikan agama islam, yang telah tersusun di dalam kurikulum nasional. Sehubungan dengan keadaan tersebut di atas, di SMP PSM pengetahuan keagamaan peserta didik harus lebih maksimal diberikan sebagai bentuk usaha untuk perubahan prilaku atau akhlak mereka. Maka hasil penelitian ini diharapkan bisa memberikan solusi terhadap permasalahan tersebut, yaitu melalui desain kurikulum mata pelajaran keagamaan di dalam muatan lokal melalui pendekatan muhasabah. Istilah muhasabah bukan istilah yang asing lagi umat islam, muhasabah bisa dikatakan sebagai langkah awal dalam proses pertaubatan menuju peninsyafan diri, karena muhasabah dapat diartikan sebagai tahap intropeksi diri atau evaluasi diri. Muhasabah, intropeksi diri yang konsekuensinya adalah tangga untuk up grade diri. Ketertarikan untuk mendesain kurikulum pembelajaran keagamaan di dalam muatan lokal dengan pendekatan yang bernuansa muhasabah dilatar belakangi, oleh konsep muhasabah itu sendiri, dimana muhasabah salah satu metode yang bisa dilakukan oleh muslimin untuk peningkatan kualitas diri setiap waktu.

Published
2017-03-01